Sebagai Pengganti Kantong Plastik Idul Adha, Baznas Bazis DKI Borong 150.000 Pengrajin

TRIBUNNEWS.COM Jakarta-Baznas Bazis DKI Jakarta telah menyiapkan lebih dari 150.000 bongbang yang akan didistribusikan di 5 wilayah Jakarta untuk menggantikan kantong plastik yang digunakan untuk mengemas daging kurban saat Idul Adha. Ini hanya “masalah”. . hari. Menurut KH Ahmad Luthfi Fathullah, Baznas Bazis DKI menyebutkan instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat membeli kerajinan Bongchan bahwa daging kurban yang dibagikan saat Idul Adha 1441 Hijriah tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai (PSP). ). -KH Ahmad Luthfi Fatullah mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Bangsang adalah alternatif lain dari plastik yang dilarang Jakarta untuk mengurangi polusi.”

— –Hari ini, Rabu (2020/7/22) Baznas Bazis DKI Jakarta telah membeli sekitar 150.000 buah Bong Sang, salah satunya adalah milik Ibu Inik, pengrajin Bong Bong dari Kec Kampong Tegal Waru. Ciampea, Bogor. Desa Kampung Tegal Waru merupakan kawasan pengrajin Fengbang yang diproduksi oleh ibu-ibu.

“Baznas Bazis telah melakukan setidaknya dua upaya dengan mengganti kantong plastik dengan Bongbang. Yang pertama adalah membantu ibunya.” Ekonomi. Pengrajin Bong Sang. Kedua, kita harus ikut serta dalam pekerjaan perlindungan lingkungan agar tidak menggunakan kantong plastik yang merusak planet kita, ”ujar KH Ahmad Luthfi Fatullah yang biasa disapa Kyai Luthfi.

Ibu Inik, pengrajin dari Desa Tegal Waru di Bong Sang, terharu , Dan terimakasih Bazis DKI yang telah membeli Bongsang.

“Alhamdulillah terima kasih Baznas Bazis yang telah membeli Bongsang di sini. Ini memang membantu perekonomian kita dalam pandemi seperti itu. Kata Ibu Inik, karena Para pembeli di Bong Sang sudah sangat tenang selama berbulan-bulan, semoga ini menjadi berkah bagi semuanya, termasuk cucu-cucu saya, mereka juga sangat senang karena bisa membelikan makanan yang enak untuk mereka. -Bong Sang merupakan kerajinan tenun domba, biasanya digunakan untuk peeyeum, tahu, hematang atau telur. Tergantung pada cuaca dan kondisi sanitasi, pengrajin biasanya dapat menyelesaikan 100 hingga 200 Fengbang dalam seminggu.

Meskipun ibunya berusia 62 tahun, dia masih bekerja sebagai Fengbang dari pagi hingga malam. Bambu tersebut terlebih dahulu dibelah, dipelintir lama-lama membentuk tali, terkena panas matahari, kemudian dianyam menjadi bentuk bongbang. Namun bagi Bu Inik, memasak untuk Bongsang jauh lebih baik daripada hidup tanpa melakukan apapun. Ibu Inik tinggal di desa yang penuh dengan bambu, sudah mengenal bambu sejak kecil kemudian menjalinnya menjadi bongbang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat Bazis DKI membeli 5.000 cucu, cucu Inik dengan antusias membantu mengangkat dan mengangkat Bangsong dengan mobil yang akan dikirim ke kantor Baznas Bazis di Jakarta.

“Kegembiraan anak-anak ini menggambarkan semacam kesederhanaan dan harapan. Mungkin anak-anak ini tidak tahu berapa banyak yang mereka hasilkan dari penjualan Bongsang Ibu Inik, tetapi mereka dapat menebak bahwa setidaknya seseorang telah membeli Bongsang, dan mereka bisa mendapatkannya dari dekat. Belilah jajanan di toko, “kata Kyai Luthfi Fatullah. Desa Inbu Inik Tegal Waru bukan satu-satunya penghasil kerajinan Bongsang. Masih banyak lagi. Pendukung produksi Bong Sang. Kesulitan ekonomi memaksa para ibu di sana untuk berkreasi, yang membuat Bong Sang setidaknya terus bekerja keras menunggu simpati orang lain sembari pensiun tanpa membiarkan lengannya bersilang meski penghasilannya kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *