Sampai hari ini, polisi telah memantau dua TPU untuk memantau pemakaman korban Covid-19

Reporter Tribunnews.com Igman Ibrahim melaporkan

JABARTA TRIBUNNEWS.COM-Direktur Hubungan Masyarakat dan Komisaris Polisi Metro Jaya Pol Yusri Yunus mengatakan bahwa polisi akan memulai patroli dekat antara dua korban patokan pemakaman . Covid-19 hari ini, Senin (6/4/2020). Dia mengatakan bahwa dua TPU yang dimaksud pemerintah adalah TPU Jakarta Barat Tegal Alur dan TPU Jakarta Timur Pondok Rangon- “Mulailah pekerjaan patroli kami dan tunjukkan harapan polisi nasional untuk dua TPU ini,” Senin (06/04 / 2020) Beritahu tim media. Seputar penolakan pemakaman korban Covid-19. Termasuk kemungkinan menolak keberadaan anggota keluarga korban yang dimakamkan di tempat kejadian. Dia mengatakan: “Mereka memiliki tanggung jawab untuk mengharapkan warga menolak menerima pemakaman dari 19 korban, dan berharap bahwa keluarga para korban ingin memaksa diri mereka untuk mengikuti prosedur pemakaman.”

Baca: Semakin banyak korban tewas, polisi TPU Tegal Alur menggunakan alat berat untuk menggali kuburan – seperti yang dilaporkan sebelumnya, Petugas Humas Kepolisian Metro Jaya Pol Yusri Yunu mengatakan apakah 60 orang akan dikirim sebagai anggota gugus tugas untuk melindungi prosesi pemakaman. Korban halo atau Covid-19.

Baca: Apakah asupan vitamin C dalam jumlah besar efektif melawan virus korona?

Menurut Yusri (Yusri), setiap tim akan dibagi menjadi dua tim. Di antara mereka, 30 karyawan menjaga Pemakaman Umum Tegal Alur (TPU) di Jakarta Barat, dan 30 karyawan menjaga TPU Pondok Rangon di Jakarta Timur. Yusri mengatakan kepada tim media, Senin (6/4/2020) bahwa di Tegal Alur TPU di Jakarta Barat dan Pondok Pondokon di Tondo di Jakarta Timur, 2 untuk setiap 30 orang akan dialokasikan untuk memastikan keamanan. Setiap penjaga masing-masing TPU 30 orang, dan akan ada 4 orang kemudian untuk membantu pemakaman ketika pejabat kuburan membutuhkannya. Sisanya akan mengejar keluarga korban yang berusaha menolak pemakaman.

“Empat orang siap untuk menggunakan APD untuk menghadiri pemakaman ketika mereka membutuhkan kuburan mereka. 26 orang lainnya menyerukan dan memimpin komunitas atau komunitas untuk alasan keamanan. Dia menyimpulkan:” Untuk mayat yang pemakamannya ditolak, anggota keluarga kami lewat sini. “

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *