Usai meratapi keputusan hakim, Abashi mengatakan bahwa air mata Lucinta Luna adalah pertanda bahagia

Laporan reporter Wartakotalive.com Arie Puji Waluyo-TRIBUNNEWS / COM-Seperti yang kita ketahui bersama, Lucinta Luna menangis usai mendengarkan putusan hakim Pengadilan Negeri Barat di Jakarta. Penjara itu terkait dengan kasus narkoba yang menjeratnya.

Sebagai kekasih, Abashi menganggap tangisan Rencinta Luna sebagai kesedihan. Ini adalah simbol kebahagiaan.

“Luna menangis bahagia, karena putusan yang ditunggu-tunggu ini akhirnya terlaksana,” kata Abash usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat di Slipi, Rabu. 30/9/2020). -Setelah putusan, Abash mengatakan Luna segera menghubunginya melalui telepon dan mengucapkan terima kasih kepada majelis hakim atas putusan tersebut. Berita: Lucinta Luna berduka atas hukuman penjara setahun karena ramalan dan enam bulan- “Dia menelepon (Lucinta Luna), saya sangat senang ada putusan, dan saya sangat berterima kasih atas doa saya. Makasih, ”ucapnya.

Air mata biru Lucinta, Luna Abash, juga mengira itu tangisan kebahagiaan. Pasalnya, selama ini perempuan bernama asli Ayluna Putri itu masih menjadi beban yang dituntut jaksa.

Baca: Lucinta Luna, divonis satu tahun enam bulan penjara, tidak naik banding – Baca: Jaksa tidak setuju hakim Lucinta Luna hukuman penjara 1 tahun 6 bulan

karena jaksa meminta Lucinta dikirim ke penjara · Lucinta Luna divonis 3 tahun penjara, yang dinilai sangat berat.

“Jadi saya tidak lagi menganggap tiga tahun penjara,” kata Abashi.

Sebelumnya diberitakan Polres Metro Jakarta Barat, kekasihnya (bernama Abashi “), dan dua asistennya menangkap Lucinta Luna di apartemen Tanlin City di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dua asisten ditangkap pada Selasa (1 Januari 2020). Dalam penangkapan tersebut, polisi memperoleh obat-obatan berupa ekstasi dan dua jenis obat psikotropika, tramadol dan trichlona.

Dalam putusan, Lucinta Luna didakwa bersalah atas Pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 60 ayat 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *