Jerinx mengaku tak merelakan pendapatnya di media sosial, sehingga posisinya berakhir di pengadilan.

TRIBUNNEWS.COM DENPASAR-Musisi Jerinx mengaku bahwa dalam menghadapi proses hukum, meski pada akhirnya harus menerima konsekuensinya, ia tidak akan melepaskan pandangannya di media sosial. Argumen media sosial lebih efektif daripada protes.

“Enggak (menyerah), selama itu untuk kepentingan umum saya berhak berbicara. Makanya saya kritik lagi, itu bukan kepentingan pribadi,” Jelinks tiba di Bali kemarin, Kamis (6/8/2020). Kata di celah markas polisi.

Kemarin, pria bernama Gede Ali Asstini ini membantah laporan IDI Bali telah mengkaji ulang. Tentang apa yang disebut ujaran kebencian. –Jerinx mengatakan dia bertekad untuk terus berbicara menentang ketidakadilan. – “Saya memiliki banyak kelas menengah ke bawah di masyarakat. Selama ketidakadilan terjadi, saya akan terus menambahkan.” Baca kritik: minta maaf dan serukan IDI untuk mempromosikan perdamaian, Yerinx menjelaskan kepada saya arti dari WHO Kacung , Istrinya Jerinx juga menunjukkan bahwa dia selalu menolak untuk membuat pengujian cepat PCR atau kebijakan pengumpulan sebagai persyaratan administratif. Misalnya, kebutuhan perjalanan, pekerjaan atau akses layanan medis.

Alasannya adalah bahwa kedua metode ini hanya merugikan lapisan masyarakat yang paling bawah.

“Solusinya jelas. Mohon segera hapus quick test sebagai solusi. Dia berkata:” Kita semua tahu bahwa setiap orang dalam masalah dan memberikan solusi mengapa kita harus merawat kondisi mereka. Jika ada solusi untuk mengurangi beban hidup mereka, lakukanlah. “-Baca: Membawa data dan dokumen ke Polda Bali di Jerinx: Saya kira ini benar

Penjelasan polisi atas penyidikan Jerinx Pada saat yang sama, Direktur Reserse Kriminal Bali Kombes Yuliar Kus Nugroho mengatakan ada tiga Arahkan polisi harus menyelidiki ketika mereka memeriksa Jerinx kemarin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *