Sebastian Geraldo Bhaskara Putra Sibbald mengaku menjadi musisi bukanlah cita-citanya

Kata emas “kebaikan dan kerja keras tidak mengkhianati hasil” adalah benar. Keterampilan saksofonnya kerap membuat pria tampan ini melakukan perjalanan ke berbagai negara untuk mengisi berbagai ubahan dalam pagelaran musik jazz. Di Indonesia, waktu penerbangan bahkan lebih lama.

Namun, perannya di bidang jazz tidak serta merta menyebabkan popularitasnya. Padahal popularisasi bukanlah tujuan akhir. Tugas utama dan visinya adalah apakah karyanya bisa membuat penikmat musik bersuka cita. Inilah prinsip orang Jawa Belanda.

Sebastian Geraldo Bhaskara Putra Sibbald mengaku bahwa menjadi musisi bukanlah impiannya. Impian Bath bahkan ingin menjadi pemain sepak bola. Dimulai dengan keseruan menyaksikan final Piala Dunia 2002. Saat itu, Brasil vs Jerman. Buss berkata, “Saya sangat ingin menjadi Ronaldo, tapi ternyata gaya hidupnya berbeda.”

Latar belakang musiknya memiliki banyak keunikan. Ada suka dan duka, ada tawa dan kesedihan. Kemudian dia mengungkapkan bahwa memainkan saksofon bukanlah pilihannya. Di bawah bimbingan ayahnya yang berusia 6 tahun, ia adalah seorang pengusaha dan pemain saksofon, ayahnya Genoneva Gerardia Geacinta Gadisvania Sibbald alias Gadiz adalah adiknya, ia seolah “dipaksa” untuk mengikuti jejaknya. Di saksofon-saat Buzz mengatakan “ya”, Buzz terpaksa menghadapi “pertunangan.” Bass berkata, “Ayah bilang kalau kamu tidak ingin memotongnya menjadi dua, kamu harus bertunangan. Namanya anak kecil dan aku tidak tahu apa itu pertunangan.” Karena postur tubuhnya masih sangat kecil, Bass mulai memainkan saksofon terkecil. Yaitu Baby Sopranino.

Bersama Gadiz, Bass akhirnya berlatih membaca not, melatih jari-jarinya (jari), dan bernapas (menguasai teknik pernapasan peredaran darah). Diiringi pertunjukan, suara terbentuk dan musikalitas dibentuk bersama. “Kamu bisa berlatih 3 sampai 4 jam sehari,” kenang pria kelahiran 8 Juni 1994, yang juga pandai bermain seruling, terompet, klarinet, piano, drum, perkusi, dan bas. Mengikuti perkembangan zaman, Bass menerima tindakan disipliner. Saat tubuhnya tumbuh, dia juga memainkan semua variasi saksofon, termasuk bariton yang mengikutinya.

Seperti FLAGSHIP (brand ambassador) saksofon Taiwan

Bass G adalah nama panggilan panggungnya. Setelah setahun menjalani latihan rutin dan keras, Bass mulai berani bermain secara profesional bersama kakaknya G&B (Gadiz V & Bass G). Pada tahun 2003, itu adalah rekaman khusus G&B, yang diakui dan disponsori oleh Saxophone Taiwan. Tugas mereka adalah menunjukkan, memasarkan, dan mempromosikan saksofon merek Gadiz V & Bass G (G&B Sax).

Bersama para gadis, Bass memiliki misi membuat saksofon bisa dimainkan oleh siapa saja dari segala usia, dengan berbagai jenis pertunjukan, tidak hanya musik jazz.

Pada 2005, Bass bahkan meraih penghargaan pemain saksofon profesional termuda di Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI). “Kebanyakan orang mengira saksofon itu eksklusif, mahal dan hanya digunakan untuk musik jazz. Bahkan bisa digunakan untuk semua jenis musik, termasuk pop, dangdang rock, dan musik lainnya,” kata Bass.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *