Berbagai mutasi virus Covid-19

Disediakan oleh: Professor Tjandra Yoga Aditama

Dekan Pascasarjana Universitas YARSI / Professor FKUI

Mantan Direktur WHO SEARO, Mantan Managing Director P2P dan Kepala Balitbangkes

TRIBUNNEWS .COM-Beberapa hari ini, Sudah banyak pemberitaan tentang mutasi vaksin COVID-19.

Kita tahu bahwa virus COVID-19, seperti virus lainnya, memang dapat bermutasi dari waktu ke waktu. Sejak Februari 2020, mutasi D614G juga telah dilaporkan di negara saya.

Sejak awal pandemi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah bekerja sama dengan jaringan laboratorium global yang mencakup banyak negara untuk menganalisis virus SARS-CoV-2 yang penyebabnya adalah COVID-19.

Selanjutnya, jaringan laboratorium SARS-CoV-2 global WHO dibentuk, yang melibatkan kelompok kerja evolusi virus SARS-CoV-2, dengan tujuan mendeteksi mutasi secara cepat dan menilai kemungkinan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. -WHO merekomendasikan agar negara-negara meningkatkan kemampuan pengurutan SARS-CoV-2 mereka sebanyak mungkin, dan kemudian membagikan permintaan secara internasional untuk membantu dunia memantau dan menanggapi pandemi saat ini. — Pada bulan Desember 2020, pemerintah Inggris melaporkan mutasi B. 1.1.7 ke Organisasi Kesehatan Dunia sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional (IHR) 2005. Yang dibicarakan adalah mutasi B.1.351 di Afrika Selatan yang terjadi terutama setelah adanya laporan. Klinik vaksinasi Johnson & Johnson dan Novavax memiliki efektivitas yang lebih rendah di Afrika Selatan dibandingkan di negara lain, sebagian karena mutasi ini. Kita juga tahu bahwa ada mutasi B.1.1.28 di Brasil.

Pada 1 Februari 2021, Federasi British COVID-19 Genomics United Kingdom (COG-UK) mengidentifikasi 11 sampel dengan mutasi B.1.1. Setelah menganalisis 214.159 urutan, mutasi 7 dan E484K muncul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *