Diperlukan perhitungan yang cermat untuk mengantisipasi kemungkinan krisis pangan di kota selama pandemi korona

Penulis: Lisa Douri (Liza Dwi) Ratna Dewi, seorang dosen senior di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budiluhe

TRIBUNNEWS.COM- masyarakat perkotaan kelas menengah ke bawah paling rentan terhadap pandemi domino abad ke-19. Dengan aturan internal Aja, bekerja dari rumah, e-learning, dan pembatasan sosial skala besar (PSBB), banyak kegiatan ekonomi berhenti.

Krisis ekonomi sedang terjadi. Dalam waktu singkat, begitu banyak warga kota kehilangan pekerjaan dan menjadi sumber penghasilan.

Pekerja formal, beberapa di antaranya adalah karyawan pusat perbelanjaan (pusat perbelanjaan), termasuk karyawan toko, restoran, kafe dalam ruangan, sepeda motor online, dan pekerja informal juga sangat mengurangi pendapatan mereka. menghilang.

Sebut saja pemasok makanan dan minuman di kampus, sekolah, dan perkantoran. Penjual bakso, cendo mengkilap, bubur ayam, mie ayam, makanan goreng, ketoprak, gado-gado, memotong buah, dll. B

Kami belum tahu kapan orang-orang ini akan menemukan pekerjaan.

Banyak media dan media sosial memberi tahu pemerintah bahwa mereka akan memberikan bantuan makanan yang biasanya mencakup beras, minyak goreng, mie instan, dan biskuit.

Sebenarnya, tubuh manusia membutuhkan lebih dari sekedar toko kelontong. Tubuh manusia juga membutuhkan nutrisi dari sayuran, buah-buahan, dan berbagai bumbu dan bumbu. Nutrisi ini dapat membuat makanan lezat dan dipercaya dapat meningkatkan kesehatan dan kekebalan tubuh manusia. — Ini berarti bahwa bencana berikutnya yang akan terjadi adalah kelaparan dan kekurangan gizi di daerah perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *