Pencegahan epidemi mungkin menjadi pendorong ekonomi

Laporan riset Institute of Economic Development and Finance (INDEF) -Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Selain ekonomi Indonesia, virus Covid-19 atau pandemi yang biasa dikenal dengan virus Corona di masyarakat semakin banyak menjangkiti masyarakat. Dampak ekonomi virus pada awalnya hanya mengikis pinggiran ekonomi Indonesia dengan meningkatkan impor banyak produk dari Cina.

Namun, karena virus ini menyebar dengan cepat [Pada tanggal 23 Maret 2020, sebanyak 579 orang di Indonesia telah dites positif untuk Corona, 30 telah pulih dan 49 telah meninggal (Covid-19 Information Center, 2020)], stabilitas ekonomi telah terpengaruh.

Baca: Apakah Anda menekankan informasi corona? Cara untuk mengatasinya adalah bahwa nilai tukar rupee terus turun tajam, dan dengan koreksi mendalam dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pasar saham terbakar. Dampak virus ini diperkirakan akan menyebar ke seluruh sektor perekonomian sehingga menggerus pertumbuhan ekonomi.

Meski epidemi ini memang akan menurunkan pertumbuhan ekonomi, belum ada upaya cepat yang dilakukan oleh pembuat kebijakan untuk menyelamatkan dunia. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, optimisme ekonomi tidak akan pernah berlalu. Baru setelah pandemi Covid-19 bisa dikalahkan, paling tidak menunjukkan tanda-tanda penahanan dan akhirnya teratasi, akan muncul optimisme dan sentimen ekonomi positif.

Oleh karena itu, kemampuan pemerintah dan peserta ekonomi untuk bersama-sama mengoptimalkan alokasi sumber daya untuk menyelesaikan masalah kesehatan ini akan menentukan arah perkembangan ekonomi di masa depan.

Baca: Desinfeksi Pertamina di Terminal Komprehensif Lingkar Pertama Surabaya

Tanpanya, puluhan langkah stimulus ekonomi belum bisa menggairahkan perekonomian. INDEF menganalisis dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 dan membuat rekomendasi kebijakan berikut:

1. Isolasi daerah darurat – untuk mencegah penyebaran Covid19 di kelurahan / desa, banyak kasus tindakan positif / ODP / PDP dan sekitarnya Desa akan setidaknya selama dua (dua) minggu ke depan. Menurut kesepakatan ahli epidemiologi, Kola Khan yang dikarantina ditentukan berdasarkan batas positif (kepadatan) setiap populasi.

Warga kelurahan karantina hanya bisa keluar rumah setiap 2-3 hari sekali untuk membeli makanan, obat-obatan dan kebutuhan pokok lainnya yang belum mendapat bansos) menggunakan teknologi yang memudahkan pembayaran (mobile banking, mata uang digital, dll).

⦁ Pastikan bahwa spread berada pada level terendah berdasarkan data dan informasi yang akurat. Jalan / desa, RT / RW, tokoh masyarakat harus banyak dilibatkan oleh pemerintah kota / bupati. Partisipasi organisasi pemuda, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan dan organisasi lainnya sangat penting.

Baca: Covid-19: Tanggung Jawab Media dan Nilai Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *