Pertimbangkan pro dan kontra dari karya penciptaan “Hukum Model Kerja” dan “Hukum Komprehensif”

Disediakan oleh: Dr. Anwar Budiman SH MH

TRIBUNNEWS.COM-Dua gajah sedang berkelahi, dan tanduknya mati di tengah.

Jika pemerintah dan pekerja bersikeras satu sama lain, rakyat akan menjadi korban. Perlu pertimbangan yang lebih matang, pemerintah tengah membahas untung rugi Undang-Undang Penciptaan Ketenagakerjaan Komprehensif (RUU) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan rencana aksi puluhan ribu pekerja untuk menolak RUU tersebut. RUU-hari ini adalah hari-hari kunci untuk menunggu aksi serikat atau tidak ada aksi serikat pekerja pada 30 April 2020, yang juga terkait dengan 1 Mei 2020 atau Hari Buruh Sedunia, 1 Mei 2020. Di Gedung DPR RI Senayan, Jakarta, hadir 30 hingga 50.000 pekerja dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi atau Jabodetabek.

Ribuan pekerja selanjutnya akan mengikuti rs juga akan digelar di 20 provinsi lain di Indonesia, provinsi ini berpusat di kantor gubernur dan DPRD setempat.

Baca: Pagi Id Corona Pandemi, Buruh Ngotot Digelar 1 Mei, Meski Tak Ada Izin Polisi, Tindak 30 April Tukang Kerja Menunggu Keputusan Presiden Joko Widodo 2020 Berhenti membahas undang-undang komprehensif tentang penciptaan lapangan kerja sebelum 30 April. -Jika Presiden Jokowi tidak menghentikan pembahasan Undang-Undang Penciptaan Kerja Komprehensif, pekerja akan terus melakukan tindakan, mengabaikan pembatasan sosial masif (PSBB) pemerintah untuk virus corona 2019 atau pandemi Covid-19.- — Jika keputusan Presiden Jokowi ditujukan kepada buruh, ratusan ribu buruh akan diprotes dan ribuan buruh akan ditahan, jadi bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *