COVID-19 dan masalah budaya

Masalah COVID-19 dan budaya

Penulis: Slamet Tuharie

Dalam beberapa bulan terakhir, virus atau penyakit yang kita sebut Covid-19 berhasil mengubah status dunia internasional. Menurut laporan, meski mulai 20 Maret 2020, pemerintah China secara bertahap mengizinkan ratusan perusahaan domestik dan asing di Wuhan untuk melanjutkan aktivitas, Wuhan, daerah pertama tempat munculnya Corona, telah menjadi kota kematian. Disediakan oleh Channel News Asia (CNA). Bahkan, pemerintah China akan membatalkan status lock in Wuhan dan provinsi Hubei lainnya pada tengah malam Selasa (24/3). Terus berjuang melawan pandemi global ini. Menurut catatan Worldometer, setidaknya 210 negara menghadapi masalah Covid-19, termasuk Amerika Serikat yang memiliki jumlah pasien positif terbesar dan angka kematian tertinggi akibat Covid-19 di dunia.

Angka kematian di Amerika Serikat jauh melampaui China yang merupakan negara asal Covid-19. Per 17 April 2020, dari total 678.210 pasien, jumlah kematian adalah 34.641 orang-orang.

Pada saat yang sama, selain Amerika Serikat, Spanyol memiliki 184.948 orang dan 19.315 kematian, dan Italia memiliki 168.941 orang dan 22.170 kematian. Seperti di Prancis, 17.920 kematian tercatat dari total 165.027 pasien positif. -Untuk Indonesia, catatan Worldometer per 17 April 2020 menunjukkan terdapat 496 kematian dari 5.516 kasus atau 8,99% case death rate (CFR). Ini sama dengan komentar yang disampaikan oleh kelompok kerja manajemen COVID-19 pemerintah Indonesia. 3,4% angka. Karenanya, bukan hanya pemerintah, tetapi setiap orang memiliki tanggung jawab yang sama untuk mencegah penyebaran Covid-19 agar tidak menyebar.

Isu budaya interaktif

Penyebaran virus Corona dilakukan sehingga para ahli kesehatan dan virolog telah menggunakan berbagai teori untuk menggambarkan bahwa virus tersebut telah memasuki 210 negara dengan cepat. Dari sudut pandang kesehatan, artikel ini tidak akan mencakup Covid-19 karena banyak penjelasan telah dibuat dari sudut pandang ini. Patut dicatat, salah satu hal yang berkontribusi pada percepatan penyebaran Covid-19 adalah budaya interaksi masyarakat global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *