Untuk mengenang Profesor Arief Budiman: keributan yang keras kepala tapi sentimental

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Profesor Arief Budiman meninggal dunia sehari sebelum Ramadhan. Ia menjabat sebagai Konsul Jenderal pada tahun 1999 dan dari tahun 2004 hingga 2007. Sebelum saya tidak mengenal pihak lain, saya meninggalkan kesan bahwa dia adalah seorang radikal berusia 66 tahun, sangat galak dan anti-orde baru. Ternyata kesan tersebut tidak terlalu nyata. Kesalahan Arief Budiman bisa jadi karena ia terlalu nyata (bloko = Jawa), dan jauh di lubuk hatinya itulah yang ingin ia singkirkan. –Dia tidak meragukan bahwa ucapannya akan membuat kesal pejabat atau menyinggung seseorang, tetapi dia tidak memiliki pengikut fanatik. Guru Arief Budiman adalah seorang pejuang tunggal.

Arief Budiman ternyata memiliki kepribadian yang sangat sensitif, bahkan terkadang bergairah. Saat bencana tsunami terjadi pada 26 Desember 2004, Dharma Wanita, KJRI Melbourne, memimpin Profesor Arief Budiman untuk menggalang dana.

Baca: Kisah Penyerang Membunuh Teman Pacarnya Setelah Berhubungan Seks di Apartemen: Saya Ingin Menggelar Lagi, Tapi Dia Tolak-Dia Mampu Memberikan Penunjukan yang Akomodatif untuk Jabatan Direktur Pusat Kajian Indonesia di Universitas Melbourne Teater untuk 500 orang. — Dharma Wanita bekerja sama dengan KJRI Melbourne mengisi acara, menjual tiket, makanan dan kerajinan tangan yang merupakan sumbangan dari masyarakat Indonesia di Melbourne. Hasilnya cukup bagus untuk membangun hotel pemuda di Aceh.

Baca: Jokowi Tunda Pembahasan RUU Cipta Kerja, Andi Gani: Mendengar Suara Buruh-Dalam Sambutannya, Ini Pertama Kali Saya Lihat Arief Budiman Menangis dan Sempat Berhenti Berbicara selama beberapa menit. Dia sepertinya tidak bisa berkata apa-apa untuk menggambarkan skala bencana dan jumlah korban manusia yang tidak bersalah. Saya mengatakan bahwa saya sangat aktif ketika saya masih muda, meskipun saya tetap idealis.

Saya seorang profesional dan saya di bidang diplomasi. Saya sebagai pegawai negeri dan diplomat bertanya apakah saya bisa bergabung dengan Melbourne Discussion Group (OMD), forum diskusi mahasiswa Indonesia dan masyarakat Melbourne yang ia dirikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *