Idola milenial NU Gus Yusuf Chudlori

Gus Yusuf Chudlori, Idola NU milenium: KH. Imam Jazuli, Magister Hukum * Gus Yusuf Chudlori (Gus Yusuf Chudlori), nama lengkapnya KH. Muhammad (Muhammad Yusuf Chudlori). Ia adalah wali Pondok Pesantren API (Pondok Pesantren) di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Di antara para petani, KH, mantan presiden keempat Republik Indonesia. Abdulrahman Wahid (Gus Dur) menerima pendidikan agama. Pria kelahiran 3 Juli 1973 ini adalah seorang seniman kemanusiaan dan keliling dunia untuk mencari ilmu. Dari KH. Chudlori, pendiri API, meninggal dunia, dan Gus Yusuf diasuh oleh adiknya KH. Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur). Belakangan, pada 2011, Gus Yusuf mewarisi kepemimpinan dari Mbah Dur. Sebelum menjadi pewaris dan wali API 2011, Gus Yusuf menempuh pendidikan agama di Pesantren Lirboyo Kediri (1985-1994). Setelah itu, ia melanjutkan pengembaraan intelektualnya hingga tahun 1998 hingga ke Pondok Pesantren Salafiyah Kedung Banteng di Purwokerto dan Pesantren Salafiyah Bulus di Kebumen. Selama ini, Mbah Dur melatih Gus Yusuf untuk berperan aktif dalam menjaga kesuburan. Era reformasi. Ia ikut serta dalam momen paling menentukan dalam sejarah republik ini, itulah mengapa Gus Yusuf pantas memimpin Panitia Pimpinan Cabang PKB (1999-2007). Pada 2008, saat PKB terjerembab dalam keretakan kubu Gus Dur dan kubu Cak Imin, Gus Yusuf dipercaya untuk memimpin Ketua DPW PKB di Jawa Tengah. Awalnya kehilangan posisi struktural ini, tetapi mendapatkan kembali jabatan presiden pada 2013. Api bersejarah yang dimainkan oleh Gus Yusuf Chudlori tidak hanya berkobar di bidang politik, tetapi juga aktif di bidang seni dan budaya. Dia ikut mengembangkan komunitas Gunung Lima dengan seniman hebat Susanto Mendut. Pada 2019, Kompas menerbitkan artikel yang menggambarkan aktivitas komunitas ini sebagai komunitas seni yang penuh keringat petani. Produsen jagung, lada, kubis dan kacang-kacangan berencana untuk berpartisipasi dalam pembiayaan kegiatan artistik mereka. Terlepas dari penikmatnya, mereka tidak berniat mencari donor. Ini adalah seni populer yang tidak dapat digunakan oleh kaum borjuis. Dengan adanya Komunitas Lima Gunung (KLM) yang berada di Jawa Tengah, semangat Ahlus Sunnah wal Jamaah benar-benar menjadi populis. Lutut lainnya juga bisa dilihat di lapangan olahraga. Pada 2011, pengelola PPSM Magelang sempat kewalahan karena tidak lagi mendapat suntikan dana APBD. Akhirnya PT Magelang Football Academy (MSA) mengambil alih. Nah, dalam formasi resmi klub tersebut, posisi CEO dipegang oleh Kiai Muhammad Yusuf Chudlori yang terkenal atau kerabat dekat Gus Yusuf (Gus Yusuf). ) Melayani. Bersatu dengan rakyat melalui seni dan berpartisipasi aktif dalam kepemimpinan partai politik tidak serta merta menduduki Gus Yusuf Chudlori dalam bahasa Turki atau kertas kuning. Zamakhsyari Dhofier (1982), Martin Van Bruinessen (1995), Affandi Mochtar (2009) dan peneliti lain telah mengajukan atribut bahwa ikan tu tidak dapat dipisahkan dari tradisi petani. Oleh karena itu, Gus Yusuf tidak bisa menceraikan tilawah yang sebenarnya dari kebutuhan sehari-hari rakyatnya. Misalnya orang-orang berbakat Gus Yusuf yang miskin politik dan kesenian rakyat, dan mereka selalu berinteraksi dengan Ayhal Wah seperti Imam al-Ghazali. Kontak dengan buku-buku tipis seperti Ayyuhal Walad. Idealnya, seorang kiai-kiai yang besar selalu membawa buku-buku yang berat, tetapi tidak memuat Gus ini. Sebuah studi sederhana tentang ibadah, penyembahan, moralitas dan moralitas praktis adalah perhatian utamanya. Meskipun dia adalah alumnus Massachusetts Institute of Development and Training. Pengabdian masyarakat menjadi “suluk” intelektualnya membuat Gus Yusuf Chudlori tak mau berhenti pacaran. Layanan sosialnya terus berkembang, yang semakin terbukti dalam aktivitasnya di komunitas gerakan anti-narkoba dan aditif. Atas usaha bersama orang-orang yang peduli dengan masa depan anak muda, seorang gusist menerbitkan artikel berjudul “Menapaki Kehidupan Baru: Surabaya: Doa Harian, Surabaya: Kalista”, Bandung, 2012 Festival Film Interaktif, Bandung: Maria, artikel ilmiah 2013. Pengobatan. Gus Yusuf Chudlori adalah seorang misionaris muda NU yang terpercaya di era digital, yang bisa dibilang mahir di bidang teknologi. Pidato agamanya disiarkan di berbagai media sosial seperti Facebook, Instagram dan YouTube. Padahal, dia memperjuangkan pengakuan nilai-nilai petaniPublik mendengarkan melalui stasiun radio mereka sendiri Fast FM. Yang paling dia banggakan adalah karakternya yang “sederhana” dan mengendus prestasinya. Suatu hari, komunitas sastrawan Jogja seperti Gusdurian Jogja dan komunitas Mojok.com melakukan wawancara langsung. Gus Yusuf mengatakan: “Orang tahu saya ini pengasuh, meskipun saya bukan pengasuh. Nama pengasuh mengawasi petani pada malam hari. Saya keluar setiap hari untuk bermain” (Mojok.co, 25 Mei 2019) hari). Pernyataan kerendahan hati dan kesombongan untuk semua pencapaian. Tidak mudah bagi penulis untuk menyebut Gus Yusuf sebagai “Api Sejarah”, dan terus berkobar di antara generasi muda warga Nahdliyyin lainnya. Setelah itu, kedekatan penulis dengannya dipertemukan kembali di Kediri, sebuah pesantren di Liboyo. Sejak muda, dia telah menginspirasi banyak teman. Tuhan kembali memanggil penulis dan Gus Yusuf ke pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiah (RMI) sebagai wakil presiden periode 2010-2015. Penulis membuktikan bahwa visi dan gagasan praktisnya telah menginspirasi banyak mahasiswa PBB dan generasi muda milenial. Tidak hanya masyarakat Turat atau kertas kuning harus ditanggapi dengan serius, tetapi pelayanan sosial, politik nasional dan politik praktis, khususnya seni dan budaya, harus menjadi bagian dari fungsi utama pesantren. Allah tahu shawabnya yang terbaik. * Penulis adalah pendahulu Pondok Pesantren Gediri Libori; Jurusan Alumni Mesir Universitas Al-Azhar. Teologi dan filsafat; alumni Fakultas Pendidikan, Universitas Malaysia, Departemen Kebijakan dan Strategi; lulus dari Universitas Malaya, Departemen. Riset Pertahanan dan Strategi Internasional; Wali Pondok Pesantren Cirebon Bina Insan Mulia; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Persatuan Pesantren Indonesia); Pengurus Nahdlatul Ulama (PBNU), menjabat dari tahun 2010 hingga 2015 .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *